Contoh Tinjauan Pustaka dalam artikel jurnal

Daniel Ginting, Ross M. Woods, Yusawinur Barella, Liem Satya Limanta, Ahmad Madkur, and Heng Ee How. The Effects of Digital Storytelling on the Retention and Transferability of Student Knowledge. SAGE Open Volume 14, Issue 3, July 2024. https://doi.org/10.1177/21582440241271267

Video bercerita dengan narasi

Tinjauan pustaka ini membahas pengaruh video bercerita dengan narasi terhadap retensi pengetahuan mahasiswa calon guru. Seiring berkembangnya media digital, video bernarasi telah menjadi sarana yang populer untuk menyampaikan informasi dan gagasan. Berbagai penelitian telah mengkaji efektivitas sarana pembelajaran ini terhadap hasil belajar mahasiswa, khususnya penggunaan cerita dalam video bernarasi untuk meningkatkan retensi pengetahuan (Karsenti & Bugmann, 2018; Moulton et al. 2017; Noroozi et al. 2020).

Bercerita melalui video bernarasi merupakan teknik yang efektif untuk menghubungkan penonton secara emosional dengan materi. Video pembelajaran yang paling kuat membangun hubungan emosional dengan topik yang disajikan (Victor, 2017). Penerapan prinsip personalisasi dalam narasi membuat video semakin menarik dan lebih dekat dengan pengalaman penonton. Video bernarasi memiliki keunggulan berupa narasi suara yang dapat membangkitkan emosi tertentu. Dengan menyusun naskah secara cermat serta memanfaatkan nada suara, tempo, dan intonasi, pencerita dapat memengaruhi emosi penonton. Membangun hubungan melalui emosi seperti empati, kegembiraan, kesedihan, atau rasa terinspirasi dapat membuat materi lebih mudah diingat.

Penggunaan video bernarasi sebagai sarana pembelajaran telah memberikan dampak positif terhadap prestasi akademik dan keterlibatan mahasiswa. Sebagai contoh, Zaneldin et (2019) meneliti pengaruh pembelajaran berbasis video terhadap kinerja mahasiswa dalam mata kuliah teknik. Penelitian tersebut menemukan bahwa mahasiswa yang menonton video perkuliahan memiliki prestasi akademik yang lebih baik daripada mahasiswa yang tidak menontonnya. Demikian pula, Seckman (2018) membandingkan pengaruh video bernarasi dengan materi konvensional berbasis teks terhadap hasil belajar mahasiswa keperawatan. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa yang menonton video bernarasi memiliki tingkat retensi pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih terlibat dalam proses belajar.

Penggunaan video dalam pendidikan dapat menciptakan suasana yang membuat mahasiswa merasa terlibat sepenuhnya. Suasana ini membantu mereka mengingat konsep-konsep utama dengan lebih baik dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis (Mora, 2016). Tujuan utama retensi pengetahuan adalah membantu perpindahan informasi yang baru diperoleh dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang (Mithun & Evans, 2018). Secara keseluruhan, pembelajaran dengan model kelas terbalik menghasilkan kinerja mahasiswa yang lebih baik dan kemampuan mengingat materi dalam jangka yang lebih panjang. Sementara metode pengajaran konvensional lebih unggul dalam retensi jangka pendek, yaitu hingga tiga bulan, penggunaan video dalam pengajaran lebih unggul dalam retensi jangka panjang, yaitu hingga 12 bulan (Shatto et al., 2017). Mahasiswa yang lebih berfokus pada mencatat daripada memikirkan dan mengolah materi biasanya memiliki retensi pengetahuan atau ingatan jangka panjang yang kurang baik (Hadie et al., 2019). Penggunaan model kelas terbalik pada akhirnya meningkatkan tingkat retensi mahasiswa, yaitu keberlanjutan mereka dalam studi, serta indeks prestasi kumulatif mereka (Mithun & Evans, 2018).

Penggunaan cerita dalam video bernarasi merupakan pendekatan yang sangat efektif untuk meningkatkan retensi pengetahuan mahasiswa. Susantiniet al. (2016) meneliti pengaruh video dengan pendekatan naratif terhadap pemahaman mahasiswa tentang konsep-konsep biologi. Penelitian tersebut menemukan bahwa metode naratif lebih efektif daripada pendekatan konvensional dalam meningkatkan pemahaman materi. Demikian pula, Salajan et al. (2015) meneliti pengaruh penceritaan dalam video terhadap motivasi dan keterlibatan peserta didik dewasa. Penelitian tersebut menemukan bahwa penceritaan secara efektif meningkatkan motivasi dan keterlibatan peserta didik sehingga hasil belajar mereka meningkat.

Mahasiswa calon guru merupakan kelompok peserta didik penting yang dapat memperoleh manfaat dari video bercerita dengan narasi. Hu & Sperling (2022) meneliti pengaruh video berbasis narasi terhadap sikap mahasiswa calon guru terhadap kegiatan mengajar. Penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan narasi dalam video menghasilkan sikap yang lebih positif terhadap kegiatan mengajar dan meningkatkan motivasi untuk menjadi guru. Demikian pula, Diaz (2016) meneliti pengaruh video berbasis cerita terhadap pemahaman mahasiswa calon guru mengenai pengetahuan konten pedagogis. Penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan cerita dalam video menghasilkan pemahaman materi yang lebih mendalam dan meningkatkan hasil belajar.

Selain meningkatkan retensi pengetahuan dan pemahaman materi, video bercerita dengan narasi dapat memberikan dampak positif terhadap sikap mahasiswa calon guru terhadap kegiatan mengajar. Hal ini penting karena calon guru yang memiliki sikap positif terhadap kegiatan mengajar lebih berpeluang menjadi guru yang efektif dan bertahan dalam profesinya untuk jangka panjang. Meskipun penggunaan video bercerita dengan narasi dalam pendidikan calon guru memiliki banyak potensi manfaat, sarana pembelajaran ini juga memiliki tantangan. Sebagai contoh, perancangan dan penerapan video bernarasi dapat memerlukan banyak waktu dan sumber daya yang besar.

Retensi dan transfer pengetahuan

Retensi mengacu pada kemampuan peserta didik untuk menyimpan dan mengingat informasi yang telah dipelajari dari waktu ke waktu. Retensi mencakup proses pengodean, penyimpanan, dan pengambilan kembali informasi dari ingatan jangka panjang (Rinne et al. 2011). Retensi merupakan aspek penting dalam pembelajaran karena menunjukkan sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama proses belajar tetap tersimpan serta dapat diakses dan diterapkan dalam situasi mendatang. Kemampuan kognitif ini dipengaruhi oleh beban kognitif yang dialami peserta didik selama pembelajaran. Retensi dapat meningkat ketika materi pembelajaran mengelola beban kognitif secara efektif dengan meminimalkan beban kognitif ekstrinsik, yaitu pemrosesan mental yang tidak diperlukan, dan mengoptimalkan beban kognitif germane, yaitu proses belajar yang bermakna (Castro-Alonso et al. 2021). Dengan mengurangi beban kognitif dan mendukung pemrosesan kognitif yang efektif, peserta didik lebih mungkin mengodekan dan menyimpan informasi dalam ingatan jangka panjang sehingga retensi materi yang dipelajari menjadi lebih baik.

Transfer melibatkan penerapan pengetahuan dari satu konteks ke konteks lain (Anderson, 2005). Para peneliti telah mengidentifikasi berbagai jenis transfer berdasarkan tiga dimensi: transfer positif, negatif, dan nol; transfer dekat dan jauh; serta transfer lateral dan vertikal (Barnett & Ceci, 2002). Transfer positif terjadi ketika pengetahuan dari satu situasi membantu pembelajaran dalam situasi baru. Sebaliknya, transfer negatif menghambat pembelajaran dalam situasi baru. Transfer nol menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh terhadap pembelajaran. Transfer dekat mengacu pada perpindahan pengetahuan antara situasi atau tugas yang serupa, sedangkan transfer jauh melibatkan situasi yang berbeda. Transfer lateral terjadi antara tugas-tugas dengan tingkat kerumitan yang serupa, sedangkan transfer vertikal terjadi antara tugas yang lebih sederhana dan tugas yang lebih rumit. Perlu diperhatikan bahwa transfer positif atau negatif, dekat atau jauh, serta lateral atau vertikal dapat terjadi secara bersamaan karena melibatkan perpindahan pengetahuan di antara bagian-bagian pengetahuan yang serupa. Salah satu cara untuk mendorong transfer pengetahuan adalah melalui pembelajaran yang mendalam dan bermakna, yang menekankan pemahaman konsep, bukan sekadar menghafal informasi. Pendekatan ini terbukti mendukung transfer yang lebih besar (Argote, 2012). Selain itu, pembelajaran konseptual menekankan pemecahan masalah dalam kerangka pengetahuan yang relevan. Keterlibatan aktif dalam mengembangkan penjelasan dan menghubungkan berbagai gagasan selama proses belajar meningkatkan pemrosesan yang mendalam dan transfer pengetahuan (Chi & Wylie 2014).

Transfer merupakan konsep yang sering dikaji dalam penelitian pembelajaran multimedia dan kerap digunakan untuk menilai apakah pembelajaran telah terjadi. Penelitian saat ini berfokus pada transfer yang dekat, positif, dan lateral segera setelah pembelajaran (Sorden, 2012). Sebagai contoh, penggunaan berbagai bentuk representasi, seperti teks tercetak dan grafik, terbukti meningkatkan transfer (Sorden, 2012). Dalam penelitian pembelajaran multimedia, transfer pengetahuan sering dinilai melalui pertanyaan pemecahan masalah yang mengukur transfer dekat, lateral, dan positif. Kemampuan peserta didik menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut menentukan tingkat transfer yang dicapai (Mariano, 2014).

Penelitian awal

Dalam penelitian Granito dan Chernobilsky (2012), penggunaan penceritaan dalam video pembelajaran ditemukan meningkatkan retensi pengetahuan dibandingkan dengan video konvensional bergaya ceramah. Para peneliti mengemukakan bahwa unsur naratif dan keterlibatan emosional dalam video bercerita berkontribusi terhadap peningkatan retensi. Dohn et al. (2020) mengamati bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan transfer pengetahuan secara signifikan meningkatkan kemampuan mereka menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam situasi praktis. Peran unsur visual dalam mendukung retensi dan transfer pengetahuan telah banyak diteliti. Mayer dan Anderson (1992) menemukan bahwa penggunaan unsur visual, seperti diagram, ilustrasi, dan animasi, dapat meningkatkan pemahaman dan retensi pengetahuan. Zhang et al. (2006) mengkaji pengaruh penambahan unsur interaktif dalam video pembelajaran. Mereka menemukan bahwa video dengan fitur interaktif, seperti kuis dan simulasi, berdampak positif terhadap retensi dan transfer pengetahuan ke situasi dunia nyata.

Baehr (2012) meneliti pengaruh pembelajaran kolaboratif terhadap transfer pengetahuan. Penelitian tersebut menemukan bahwa peserta didik yang mengikuti kegiatan kolaboratif menunjukkan tingkat transfer pengetahuan yang lebih tinggi daripada mereka yang belajar secara individual. Chandler dan Sweller (2009) menekankan pentingnya materi pembelajaran dengan beban kognitif yang rendah karena materi yang ringkas dan terorganisasi dengan baik secara signifikan meningkatkan retensi dan membantu transfer pengetahuan ke konteks baru. Motivasi juga ditemukan berperan penting dalam retensi dan transfer pengetahuan. Ryan dan Deci (2017) menyoroti bahwa peserta didik yang memiliki motivasi intrinsik serta merasa mandiri dan kompeten menunjukkan tingkat retensi dan transfer pengetahuan yang lebih tinggi. Simonsmeier et al. (2020) menunjukkan bahwa peserta didik yang aktif melakukan refleksi dan metakognisi memperlihatkan transfer pengetahuan yang lebih besar dan penerapan konsep yang lebih baik. Secara keseluruhan, penggunaan penceritaan, unsur interaktif, unsur visual, pembelajaran kolaboratif, pengurangan beban kognitif, serta dukungan terhadap motivasi intrinsik dan metakognisi dapat meningkatkan retensi dan transfer pengetahuan dalam berbagai konteks pendidikan.

CC BY-NC-ND
This work is released under a CC BY-NC-ND license, which means that you are free to do with it as you please as long as you (1) properly attribute it, (2) do not use it for commercial gain, and (3) do not create derivative works. Link
Disclaimer: Artificial Intelligence (AI) was used in some parts of this book. If AI plagiarized your content, contact the author with evidence to initiate changes.