The theological shift 
Perubahan teologis 
Collated and edited by Ross Woods, 2026
Until the 19th century, theology was considered the "Queen of the Sciences" because it was viewed as the ultimate framework for all truth. The Bible was treated as a flawless, divinely inspired text.
That paradigm shattered with the arrival of the Historical-Critical Method (often called "Higher Criticism"). This approach treated the Bible not as a holy artifact outside of time, but as a deeply human, historically conditioned library of texts. Here is how this intellectual revolution fundamentally secularized the study of theology itself.
The German Import: Wissenschaft
The method originated in 19th-century German universities (like Göttingen and Tübingen). German scholars applied Wissenschaft to sacred texts. At the time, it appeared to be a philosophy of rigorous, objective, and scientific research. They stopped asking, "What is God telling us in this verse?" and moved to asking, "Who wrote this verse, in what century, to what political audience, and what older texts did they plagiarize or modify?" Conservatives had not denied the historical and literary nature of scripture but the critics suggested different views.
As scholars at Harvard and Oxford began adopting these German techniques, they challenged several foundational religious beliefs:
- Scholars argued that Moses did not write the Torah (the first five books of the Bible). Instead, it was a composite text stitched together by at least four different human authors over centuries (known as the J, E, D, and P sources), as late as after the Exile in Babylon.
- They suggested that the Gospels of Matthew and Luke were not independent eyewitness accounts. They had heavily copied from the Gospel of Mark and a lost, hypothetical sayings-source called "Q".
- Textual critics argued that books like Daniel or Isaiah were not predicting the distant future through prophecy. Instead, they were written after the events they described had already occurred, using poetic language to comment on contemporary politics.
- They suggested that the book of Isaiah was written by two or perhaps three different individuals.
- Critics also suggested that many New Testament books were written much later than conservatives believed, usually by unknown authors who used the names of known apostles.
In 1906, Albert Schweitzer published a landmark book synthesizing this era, The Quest of the Historical Jesus. The thesis was revolutionary: the supernatural Jesus of Christian dogma (who performed miracles and rose from the dead) was a theological construct. The historical Jesus was simply a 1st-century apocalyptic Jewish prophet whose predictions about the immediate end of the world turned out to be wrong.
This created an existential crisis for divinity schools. If the core texts of the faith were riddled with historical errors, mythological borrowing, and human biases, how could a university teach them as absolute truth? The solution was to stop teaching faith and start teaching history.
How This Split the Universities
The introduction of Higher Criticism split academic institutions into two camps, effectively finalizing their secularization. The Liberal Universities (Harvard/Oxford) embraced the historical-critical method. They argued that true academic freedom meant no text was too sacred to be cross-examined. This decoupled the university from church orthodoxy, permanently turning their divinity schools into secular departments of history, literature, and philology.
Religious conservatives were horrified. Professors who taught Higher Criticism were often put on trial for heresy by their churches. In response to the secularization of places like Princeton and Harvard, conservative theologians broke away to form strict, independent seminaries (like Westminster Theological Seminary in 1929) to escape secular academic standards.
By the early 20th century, the transformation was complete. Theology survived at elite universities only because it had agreed to surrender its claims to supernatural authority and submit to the ideas of secular history and science.
Hingga abad ke-19, teologi dianggap sebagai "Ratu Ilmu Pengetahuan" karena dipandang sebagai kerangka tertinggi bagi seluruh kebenaran. Alkitab diperlakukan sebagai teks yang sempurna dan diilhamkan oleh Allah.
Paradigma tersebut terguncang dengan munculnya Metode Historis-Kritis (yang sering disebut "Kritik Tinggi"). Pendekatan ini memperlakukan Alkitab bukan sebagai suatu teks suci yang berada di luar waktu, melainkan sebagai kumpulan teks yang sangat manusiawi dan dibentuk oleh kondisi sejarah. Berikut adalah bagaimana revolusi intelektual ini secara mendasar mensekularisasi studi teologi itu sendiri.
Pengaruh dari Jerman: Wissenschaft
Metode ini berkembang di universitas-universitas Jerman pada abad ke-19 (seperti Göttingen dan Tübingen). Para ilmuwan Jerman menerapkan Wissenschaft pada teks-teks suci. Pada masa itu, Wissenschaft dipandang sebagai suatu pendekatan penelitian yang ketat, objektif, dan ilmiah. Mereka tidak lagi terutama bertanya, "Apa yang Allah sampaikan kepada kita melalui ayat ini?", tetapi beralih kepada pertanyaan seperti, "Siapa yang menulis ayat ini, pada abad berapa, untuk pembaca dengan konteks politik seperti apa, dan teks-teks terdahulu apa yang mereka salin atau ubah?" Kaum konservatif tidak menyangkal sifat historis dan sastra Kitab Suci, tetapi para kritikus mengajukan pandangan-pandangan yang berbeda.
Ketika para ilmuwan di Harvard dan Oxford mulai mengadopsi teknik-teknik dari Jerman ini, mereka menantang beberapa keyakinan keagamaan yang mendasar:
- Para ilmuwan berpendapat bahwa Musa tidak menulis Taurat (lima kitab pertama dalam Alkitab). Sebaliknya, Taurat dianggap sebagai teks gabungan yang disusun dari setidaknya empat sumber manusia yang berbeda selama beberapa abad (yang dikenal sebagai sumber J, E, D, dan P), dengan sebagian proses penyusunannya berlangsung hingga setelah Pembuangan ke Babel.
- Mereka berpendapat bahwa Injil Matius dan Lukas bukanlah kesaksian saksi mata yang independen. Keduanya dianggap banyak menggunakan Injil Markus dan suatu sumber perkataan hipotetis yang telah hilang yang disebut "Q".
- Para kritikus teks berpendapat bahwa kitab-kitab seperti Daniel atau Yesaya tidak sedang meramalkan peristiwa-peristiwa di masa depan yang jauh melalui nubuat. Sebaliknya, mereka berpendapat bahwa bagian-bagian tertentu ditulis setelah peristiwa yang digambarkannya telah terjadi, dengan menggunakan bahasa puitis untuk mengomentari keadaan politik pada zamannya.
- Mereka berpendapat bahwa kitab Yesaya ditulis oleh dua atau mungkin tiga orang yang berbeda.
- Para kritikus juga berpendapat bahwa banyak kitab Perjanjian Baru ditulis jauh lebih kemudian daripada yang diyakini kaum konservatif, sering kali oleh penulis yang tidak diketahui identitasnya dan menggunakan nama rasul-rasul yang dikenal.
Pada tahun 1906, Albert Schweitzer menerbitkan sebuah buku penting yang merangkum perkembangan pada masa ini, The Quest of the Historical Jesus. Tesisnya bersifat revolusioner: Yesus supernatural dalam dogma Kristen (yang melakukan mukjizat dan bangkit dari kematian) dipandang sebagai suatu konstruksi teologis. Yesus historis dipandang hanya sebagai seorang nabi apokaliptik Yahudi pada abad pertama yang ramalannya mengenai akhir dunia yang segera terjadi ternyata tidak terwujud.
Hal ini menimbulkan krisis eksistensial bagi sekolah-sekolah teologi. Jika teks-teks utama iman mengandung kesalahan historis, unsur-unsur mitologis yang diadopsi, dan berbagai bias manusia, bagaimana mungkin sebuah universitas mengajarkannya sebagai kebenaran mutlak? Salah satu jawabannya adalah berhenti mengajarkan iman sebagai kebenaran yang harus diterima dan mulai mengajarkan sejarah serta studi kritis tentang agama.
Bagaimana Hal Ini Memecah Universitas
Masuknya Kritik Tinggi membagi institusi akademik ke dalam dua kubu dan turut mempercepat sekularisasi mereka. Universitas-universitas liberal seperti Harvard dan Oxford menerima metode historis-kritis. Mereka berpendapat bahwa kebebasan akademik yang sejati berarti tidak ada teks yang terlalu suci untuk diperiksa secara kritis. Hal ini semakin melepaskan universitas dari tuntutan ortodoksi gereja dan mengarahkan studi teologi pada pendekatan akademik yang juga menggunakan sejarah, sastra, dan filologi.
Kaum konservatif religius sangat menentang perkembangan ini. Para dosen yang mengajarkan Kritik Tinggi terkadang menghadapi tuduhan bidat atau proses disipliner dari gereja mereka. Sebagai tanggapan terhadap sekularisasi institusi-institusi seperti Princeton dan Harvard, sejumlah teolog konservatif memisahkan diri dan mendirikan seminari independen yang lebih ketat, seperti Westminster Theological Seminary pada tahun 1929, untuk mempertahankan pendidikan teologi berdasarkan keyakinan konfesional mereka sendiri.
Pada awal abad ke-20, perubahan besar telah terjadi. Di banyak universitas terkemuka, teologi semakin dituntut untuk menggunakan metode akademik yang juga digunakan dalam sejarah, filologi, dan ilmu pengetahuan lainnya, sehingga klaim-klaim berdasarkan otoritas supernatural tidak lagi dapat dengan sendirinya berfungsi sebagai dasar argumentasi akademik.
CC BY-NC-ND
This work is released under a CC BY-NC-ND license, which means that you are free to do with it as you please as long as you (1) properly attribute it, (2) do not use it for commercial gain, and (3) do not create derivative works. Link
Disclaimer: Artificial Intelligence (AI) was used in some parts of this book. If AI plagiarized your content, contact the author with evidence to initiate changes.